🐍 Puisi Karya Ahmadun Yosi Herfanda
KumpulanPuisi karya Ahmadun Yosi Herfanda Kami sudah merangkum beberapa Puisi karya Ahmadun Yosi Herfanda untuk anda. Semoga bisa menjadi inspirasi dan bahan bacaan yang menyenangkan untuk melampiaskan rasa. Kumpulan Puisi karya Ahmadun Yosi Herfanda. Tidak ada komentar: Posting Komentar. Beranda. Kirim Karya. Kirim Artikel;
SastrawanIndonesia ( by Agatha ) Ahmadun Yosi Herfanda (lahir di Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, 17 Januari 1958), adalah seorang penulis puisi, cerpen dan penulis esei dari Indonesia. Ahmadun dikenal sebagai sastrawan Indonesia yang banyak menulis esei sastra dan sajak sufistik. Namun, penyair Indonesia dari generasi 1980-an ini
Bagian awal cerpen "Harga Seorang Ayah" karya Ahmadun Yosi Herfanda, Majalah Keluarga, edisi Mei 1982). Salah satu pendekatan yang sangat membedakan antara puisi dan prosa, menurut Subagio Sastrowardoyo, adalah bahwa puisi mengintisarikan pengalaman, pikiran dan perasaan penulisnya — ke dalam baris-baris kalimat yang pendek, ringkas, dan
Kaliini, aku bakal nulis mengenai puisi karya Ahmadun Yosi Herfanda yang berjudul "Sembahyang Rumputan". Sembahyang Rumputan. Walau kau bungkam suara azan. Walau kaugusur rumah-rumah Tuhan. Aku rumputan. Takkan berhenti sembahyang. :inna shalati wa nusuki. wa mahyaaya wa mamaati. lillahi rabbil alamin.
Puisidengan kerja-kerja ekspresi dan apresiasinya membuka ruang-ruang refleksi tersebut. Ruang yang memungkinkan seseorang melakukan "ziarah ke dalam diri" mereka. Judul puisi ini diambil dari salah satu sajak Ahmadun Yosi Herfanda, alumni FBS UNY yang juga sebagai penyair dan pernah menggawangi
BukuAntologi Puisi Religi ZIARAH SUNYI berisi puisi-puisi karya 30 Penyair Indonesia. Mereka adalah Ahmadun Yosi Herfanda, Akhmad Sekhu, Ayu Cipta, Bambang Kariyawan, Bambang Widiatmoko, Budhi Ku
PUISISEMBAHYANG RUMPUTAN (Ahmadun Yosi Herfanda) suka sekali dengan puisi ini, setiap kali membaca, rasanya tak mampu hati ini melepas rasa kagum pada sang rerumputan, terkadang ketika berjalan, melihat liukannya yang tersapu angin, mambuat saya mencoba berfikir, ah apakah ia sedang berzikir, kadang saya sengaja menyentuhnya, dan mencoba
Ahmadunyosi herfandalahirahmadun yosi herfanda(1958-01-17)17 januari 1958 kendal, jawa tengahpekerjaanwartawan, sastrawantahun aktif1983 - sekarang ahmadun yosi herfanda atau juga ditulis ahmadun y. herfanda atau ahmadun yh (lahir 17 januari 1958), adalah seorang penulis jurnalis dan sastrawan berkebangsaan indonesia.[1] dia menulis esai sastra, cerpen, dan sajak sufistik sosial-religius
Makamomentum Hari Puisi hendaknya dimaknai demikian. Hal ini dikatakan Penyair sekaligus Pengurus Yayasan Hari Puisi, Ahmadun Yosi Herfanda ketika diwawancarai reporter Jakarta, Jumat (27-07-2018). "Para penyair dan masyarakat pecinta sastra harus dapat menikmati puisi, ikut menulis dan membaca puisi dengan penuh kegairahan
Ahmadunmerupakan salah satu pendiri Komunitas Sastra Indonesia bersama Medy Loekito, Diah Hadaning, dan lain-lain. Sembahyang Rumputan (kumpulan puisi, Bentang Budaya, 1997). Kesimpulannya adalah Ahmadun Yosi Herfanda merupakan seorang jurnalis dan juga sastrawan. Beliau menulis esai sastra, cerpen, puisi, dan juga sajak sufistik sosial religius.
SembahyangRerumputan adalah sebuah puisi yang menggambarkan kepasrahan umat manusia terhadap Tuhan sehingga terkesan bernuansa religius ini, hampir tidak pernah luput dari jangkauan peserta atau panita pada setiap kesempatan lomba baca puisi atau lomba musikalisasi puisi. Ahmadun gemar menulis. Karya-karyanya telah dipublikasikan di
AhmadunYosi Herfanda atau juga ditulis Ahmadun Y. Herfanda atau Ahmadun YH lahir di Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, 17 Januari 1958; umur 56 tahun), adalah seorang penulis puisi, cerpen, dan esei dari Indonesia. Ahmadun dikenal sebagai sastrawan Indonesia dan jurnalis yang banyak menulis esei sastra dan sajak sufistik.
vzAi. Puisi Resonansi Indonesia Karya Ahmadun Yosi Herfanda Resonansi Indonesia Bahagia saat kau kirim rindu termanis dari lembut hatimu jarak yang memisahkan kita laut yang mengasuh hidup nakhoda pulau-pulau yang menumbuhkan kita permata zamrud di khatulistiwa. Kau dan aku berjuta tubuh satu jiwa kau semaikan benih-benih kasih tertanam dari manis cintamu tumbuh subur di ladang tropika pohon pun berbuah apel dan semangka kita petik bersama bagi rasa bersaudara kau dan aku berjuta kata satu jiwa. Kau dan aku siapakah kau dan aku? Jawa, Cina, Batak, Arab, Dayak Sunda, Madura, Ambon, atau Papua? Ah, tanya itu tak penting lagi bagi kita kau dan aku berjuta wajah satu jiwa. Ya, apalah artinya jarak pemisah kita apalah artinya rahim ibu yang berbeda? Jiwaku dan jiwamu, jiwa kita tulus menyatu dalam genggaman burung garuda. Jakarta, 1984/1999Sumber Boemipoetra Juli-Agustus, 2008Analisis PuisiPuisi "Resonansi Indonesia" karya Ahmadun Yosi Herfanda memiliki beberapa hal menarik berikutCinta dan persatuan Puisi ini menggambarkan cinta dan persatuan yang menghubungkan berbagai suku dan etnis di Indonesia. Penyair menyoroti hubungan yang harmonis antara berbagai kelompok masyarakat, yang terlihat dalam simbol-simbol seperti benih kasih, pohon yang berbuah, dan genggaman burung garuda. Ini mencerminkan semangat persatuan dalam terhadap keberagaman budaya Penyair menunjukkan apresiasi terhadap keberagaman budaya di Indonesia dengan menyebutkan berbagai suku seperti Jawa, Cina, Batak, Arab, Dayak, Sunda, Madura, Ambon, dan Papua. Dengan menyatukan berbagai identitas ini dalam satu jiwa, puisi ini menghargai kekayaan budaya yang dimiliki oleh negara bahwa identitas tidak penting Puisi ini menekankan bahwa pertanyaan tentang identitas suku atau asal tidak lagi penting bagi persatuan kita. Meskipun memiliki latar belakang yang berbeda, penyair menyatakan bahwa yang lebih penting adalah jiwa kita yang menyatu dalam genggaman burung garuda, simbol nasional persaudaraan Puisi ini menciptakan atmosfer persaudaraan yang kuat. Melalui penggunaan kata "kau dan aku", penyair menggambarkan persatuan yang lebih besar dari sekadar individu atau kelompok. Jiwa yang tulus menyatu menunjukkan semangat saling mendukung dan membangun hubungan harmonis di antara ini menginspirasi untuk menghargai keberagaman budaya Indonesia dan mengedepankan semangat persatuan. Dengan mengangkat tema cinta, persaudaraan, dan kebersamaan, puisi ini mempromosikan nilai-nilai positif yang mendukung keharmonisan dan persatuan dalam Resonansi IndonesiaKarya Ahmadun Yosi HerfandaBiodata Ahmadun Yosi HerfandaAhmadun Yosi Herfanda kadang ditulis Ahmadun Y. Herfanda atau Ahmadun YH adalah seorang penulis puisi, cerpen, esai, sekaligus berprofesi sebagai jurnalis dan editor berkebangsaan Indonesia yang lahir pada tanggal 17 Januari pernah dimuat di berbagai media-media massa, semisal Horison, Kompas, Media Indonesia, Republika, Bahana, dan Ulumul Qur'an.
- Gus Dur pernah mengatakan bahwa sastra Islam merupakan bagian yang tidak bisa dilepaskan dari peradaban Islam. Keberadaan sastra Islam, catat Gus Dur, dapat dilihat dari dua sisi legalitas formal dan pengalaman religiusitas. Faktor legalitas formal membentuk sastra Islam dengan sandaran Alquran dan Hadits. Sementara itu, sisi religiusitas merupakan sumber-sumber sosial yang menggambarkan pengalaman keberagaman. Pada 13 Desember 1963, definisi mengenai kesusastraan Islam coba dibakukan oleh Djamaludin Malik serta budayawan Islam lainnya yang tergabung dalam Lembaga Seniman Budayawan Muslimin. Lewat "Manifes Kebudayaan dan Kesenian Islam," mereka menegaskan bahwa kesusastraan Islam ialah tafsir dari rasa, karsa, cipta, dan karya manusia muslim untuk mengabdi pada Allah dan kehidupan umat. Seni Islam, jelas mereka, terlahir karena Allah untuk keberlangsungan umat yang bertolak dari ajaran wahyu ilahi dan fitrah insani. Sastra Islam sendiri punya riwayat panjang di Indonesia. Kemunculannya dimulai sejak abad 12 bertepatan dengan lahirnya kerajaan Islam macam Samudra Pasai dan Malaka. Saat itu, sastra Islam termanifestasi lewat saduran dan terjemahan karya-karya epos Arab Persia seperti Hikayat Iskandar Zulkarnain, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Muhammad Ali Hanafiya, sampai puisi-puisi Ma’arri, Umar Khayyam, dan juga Rumi. Dari situ, sastra Islam kemudian berkembang mengikuti roda zaman. Dipakai untuk tujuan dakwah, penyebaran agama Islam, hingga medium Herfanda Si Petualang Sastra Islam di Indonesia dengan dinamikanya yang kompleks itu turut melahirkan salah satu anak didiknya bernama Ahmadun Yosi Herfanda, yang merupakan penyair, cerpenis, dan esais populer di eranya. Herfanda lahir di Kendal pada 17 Januari 1958. Ia menghabiskan masa pendidikan dasarnya di Kendal sebelum mengambil kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FKSS IKIP Negeri Yogyakarta 1979. Ketertarikan terhadap dunia tulis-menulis sudah nampak sejak remaja tatkala ia didapuk menjadi pimpinan Teater 4 Mei dan menggarap beberapa naskah pementasan seperti “Sinang-Siwok,” “Borok-Borok,” hingga “Kaisar Kampret.” Kesukaan itu berlanjut saat ia duduk di bangku kuliah. Di samping aktif sebagai anggota Pelajar Islam Indonesia PII dan Himpunan Mahasiswa Islam HMI, Herfanda juga mengomandoi keredaksian buletin Warastra IKIP Yogya maupun buletin Intra HMI. Usai lulus, Herfanda kian menyeriusi dunia tulis-menulis yang dibuktikannya dengan bergabung bersama Kedaulatan Rakyat Yogyakarta 1984-1989, Yogya Post 1989-1991, Sarinah, sampai Republika 1993-2010. Di masa-masa inilah Herfanda mulai membikin puisi, esai, dan cerita juga Haidar Bagir Tasawuf Akal, Toleransi, dan Pembelaan Terhadap Syiah Dawam Rahardjo, Sang Pemikir Ekonomi Islam Beberapa karya yang ia ciptakan selama masa itu antara lain Pagar-Pagar puisi, 1980, Ladang Hijau 1980, Sang Matahari puisi, 1984, Sajak Penari puisi, 1991, Fragmen-Fragmen Kekalahan puisi, 1996, Sembahyang Rumputan puisi, 1996, sampai Sebelum Tertawa Dilarang cerpen, 1997. Selain itu, karya-karya Herfanda juga rutin mengisi media-media lokal macam Horison, Ulumul Qur’an, Kompas, Media Indonesia, dan Republika. Sepak terjang Herfanda melalangbuana juga sampai luar Indonesia. Karya-karyanya menjadi buruan para penerbit mancanegara seperti yang terjadi pada antologi puisi bikinannya berjudul Secreets Need Words yang dipublikasikan Ohio University pada 2001. Atau Waves of Wonder yang dicetak oleh The International Library of Poetry 2002 hingga “Sajak-Sajak Bulan Ini Radio Suara Jerman” yang dibedah media Jerman, Deutsche Welle. Capaian-capaian itu dibarengi pula dengan penghargaan demi penghargaan yang ditujukan untuknya. Misalnya, kumpulan puisi berjudul Sembahyang Rumputan ditetapkan jadi pemenang pertama Lomba Cipta Puisi Iqra tingkat nasional oleh Yayasan Iqra pada 1992. Lalu, cerpennya, “Sebutir Kepala dan Seekor Kucing,” meraih salah satu hadiah Lomba Cipta Cerpen Kincir Emas Radio Nederland Wereldomroep dan dibukukan dalam Paradoks Kilas Balik 1989. Herfanda pun juga tercatat pernah memperoleh Editor Choice Award dari The International Library of Poetry di tahun dan Relasi dengan Tuhan topan menyapu luas padang tubuhku bergoyang-goyang tapi tetap teguh dalam sembahyang akarku yang mengurat di bumi tak berhenti mengucap shalawat nabi Bait di atas merupakan petikan puisi Herfanda berjudul “Sembahyang Rumputan” yang ditulisnya pada 1992. Lewat puisi tersebut, Herfanda ingin menekankan bagaimana hubungannya dengan sang pencipta berjalan. Ia berpesan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang tak meninggalkan ibadah, apapun kondisinya. Puisi-puisi Herfanda seringkali dipandang memberikan ketenangan spiritual bagi mereka yang membacanya. Ada semacam efek refleksi dan introspeksi tatkala mendalami syair-syair yang digemakannya. Anda bisa melihatnya lewat “Tahajud Sunyi” yang petikannya berbunyi begini kuketuk pintumu. biarkan jemari kasihku mengusap gerai rambutmu. kau pun membuka tabir jiwaku, hingga hatiku bisa leluasa mengeja alif ba ta cintamu kata-kata mesra pun bermekaran lewat pintu jiwa kupetik bagai bunga hadiah untuk kekasihku kelak di sorgaBaca juga Sastra Sufi Abdul Hadi Kerinduan Laron kepada Cahaya Pluralisme dan Cara Merangkul Perbedaan ala Jalaluddin Rakhmat Tak sekedar membahas tentang habluminallah hubungan manusia dengan Tuhan, puisi-puisi Herfanda juga kerap menyentil kondisi sosial sekitar hingga kematian. Untuk poin pertama, Herfanda menuangkannya dalam judul “Nyanyian Kota Peradaban.” meninggalkan tuhan dalam dirinya, orang-orang makin sibuk mencari tuhan, memanggil-manggil tuhan, di mana kau tuhan? di sini tuhan di sini jawab suara di hotel-hotel dan kelab malam. ketika orang-orang berdatangan, yang terhampar cuma kelamin-kelamin rindu bersebadan Sementara untuk kematian, Herfanda menafsirkan gagasannya dalam “Sajak Ziarah.” Baginya, kematian pada akhirnya juga akan menjadi rumah bagi manusia. sepanjang langkah aku berziarah sepanjang sujud kusebut maut sepanjang cinta kutabur bunga sepanjang orgasme kusebut kematiannya sepanjang hidup kau berziarah-ziarah sepanjang mati hidup kauziarahi siapa tak kenal ziarah takkan kenal makna rumah Sastrawan Korrie Layun Rampan berpendapat puisi-puisi Herfanda menyajikan sajak-sajak dengan bentuk ucap dan tema serta teknik bersajak yang bersahaja. Sajak-sajak Herfanda, tegas Korrie, tak hendak bergagah-gagah, baik pemakaian bahasa maupun soal tema serta amanatnya. Sajak-sajaknya menggarap hal-hal kecil dengan perenungan kecil yang mungkin dilupakan orang, baik peristiwa sosial, metafisis, maupun ketuhanan. “Menariknya sajak-sajak Herfanda adalah karena diangkat dari ragam pengalamannya. Sajak-sajaknya merupakan rekaman peristiwa yang direpresentasikan kembali dengan tenaga ekspresivitas seorang penyair,” tambahnya. Senada dengan Korrie, penyair Acep Iwan Saidi juga mengungkapkan kekagumannya akan puisi Herfanda. Secara keseluruhan, terang Acep yang mengamati “Sembahyang Rumputan,” sajak-sajak Herfanda adalah sajak yang memiliki “nilai religius penuh dan kental.” “Kata pertama, “sembahyang” dari kumpulan itu juga salah satu puisi di dalamnya telah menunjukkan hal itu secara gamblang. Sembahyang adalah perilaku peribadatan umat, penyerahan diri terhadap Tuhan Pencipta Semesta. Karena idiom-idiom yang digunakan dalam keseluruhan sajak adalah idiom-idiom dalam Islam, sembahyang di sini berarti sholat. Alhasil, religiusitas yang mau dibangunnya tidak lain adalah religiusitas yang Islami,” ujar Akan Sastra Islam Sebagai sosok yang berkecimpung dalam sastra Islam, Herfanda punya pandangannya sendiri mengenai perkembangan sastra Islam dewasa ini. Dalam benak Herfanda, sastra Islam punya ciri khas yang sederhana membawa semangat Islami, mencerahkan pembaca, hingga disampaikan dalam koridor nilai-nilai Islam. Dengan ciri-ciri tersebut, sastra Islam, jelas Herfanda, “akan tetap jadi pelaku pasar sastra mainstream yang kuat.” Meski begitu, Herfanda mengakui bahwa ketertarikan publik terhadap sastra Islam masih belum maksimal. Alasannya kritikus sastra Indonesia kurang adil dalam menilai sastra Islam serta kemampuan bercerita para penulis sastra Islam yang tidak sehebat generasi lama macam Ahmad Tohari hingga Kuntowijoyo. “Cuma memang kritikus sastra di Indonesia kurang adil dalam menilai genre sastra Islam. Ini juga menjadi problem serius, terutama bagi para kritikus. Sebab, memang mau tidak mau harus mengatakan bahwa pengamat sastra yang kuat atau dikenal publik itu rata-rata pengamat sastra yang kurang peduli terhadap sastra Islami,” ujarnya dalam wawancara bersama Republika pada 2015 juga Progresivitas Masdar Farid Mas'udi Membongkar Kejumudan Beragama Huzaemah T. Yanggo Ahli Perbandingan Mazhab yang Gilang Gemintang “Akibat ketiadaan kritikus sastra Islami itu, maka perhatian publik terhadap karya sastra yang dikatakan sebagai kelompok karya sastra Islami, menjadi berkurang. Kenyataan ini berbeda dengan sikap para kritikus ketika memperhatikan “sastra sekuler.” Mereka jadi begitu jeli dan penuh perhatian ketika mencermati atau berhadapan dengan karya-karya sastra di luar genre Islami itu.” Faktor pengganjal berkembangnya sastra Islam berikutnya, seperti yang diutarakan Herfanda, ialah ketidakmampuan para penulis untuk bercerita dengan baik. Menurut Herfanda, ketika para penulis ini tidak punya kecakapan bertutur yang baik, maka “karyanya hanya menjadi sebuah karya sastra yang terasa berat ketika dibaca.” “Ini bisa jadi karena para penulis itu terburu-buru atau karena mereka mencoba menulis novel yang serius dan padat. Namun, sayangnya, upaya ini membuat kemampuan mereka bercerita secara renyah menjadi hilang. Akibatnya, banyak di antara karya mereka yang ketika dibaca terasa berat karena terlalu padat informasi dan fakta sejarah,” tegasnya. Meski demikian, Herfanda masih optimistis sastra Islam di Indonesia akan “membesar di masa depan” mengingat banyak penulis dan penerbit baru yang bermunculan dalam beberapa tahun belakangan. “Begitu juga dengan jumlah generasi penerus penulis karya Islami yang tetap tumbuh serta terus berkreasi. Dengan demikan sebenarnya munculnya berbagai karya sastra Islami yang bermutu dan laris di pasaran sebenarnya hanya tinggal tunggu waktu saja. Salah satu buktinya ya tecermin pada semakin besarnya ajang pameran buku-buku Islami Islamic Book Fair itu. Di ajang itu, jelaslah bahwa sastra Islam sudah menjadi sebuah kekuatan tersendiri,” pungkasnya.====================Sepanjang Ramadan hingga lebaran, redaksi menyuguhkan artikel-artikel yang mengetengahkan pemikiran para cendekiawan dan pembaharu Muslim zaman Orde Baru dari berbagai spektrum ideologi. Kami percaya bahwa gagasan mereka bukan hanya mewarnai wacana keislaman, tapi juga memberi kontribusi penting bagi peradaban Islam Indonesia. Artikel-artikel tersebut ditayangkan dalam rubrik "Al-Ilmu Nuurun" atau "ilmu adalah cahaya". - Humaniora Penulis M FaisalEditor Maulida Sri Handayani
Puisi – Sembahyang Rumputan merupakan sajak yang ditulis oleh Ahmadun Yosi Herfanda. Ahmadun lahir di Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, pada 17 Januari 1958 silam. Ia dikenal sebagai jurnalis dan sastrawan tanah air yang banyak menulis sajak-sajak sosial-religius. Berikut Puisi Sembahyang Rumputan Karya Ahmadun Yosi Herfanda Sembahyang Rumputan walau kaubungkam suara azanwalau kaugusur rumah-rumah tuhanaku rumputantakkan berhenti sembahyang inna shalaati wa nusukiwa mahyaaya wa mamaatilillahi rabbil alamin topan menyapu luas padangtubuhku bergoyang-goyangtapi tetap teguh dalam sembahyangakarku yang mengurat di bumitak berhenti mengucap shalawat nabi sembahyangku sembahyang rumputansembahyang penyerahan jiwa dan badanyang rindu berbaring di pangkuan tuhansembahyangku sembahyang rumputansembahyang penyerahan habis-habisan walau kautebang akuakan tumbuh sebagai rumput baruwalau kaubakar daun-daunkuakan bersemi melebihi dulu aku rumputankekasih tuhandi kota-kota disingkirkanalam memeliharaku subur di hutan aku rumputantak pernah lupa sembahyang sesungguhnya shalatku dan ibadahkuhidupku dan matiku hanyalahbagi allah tuhan sekalian alam pada kambing dan kerbaudaun-daun hijau kupersembahkanpada tanah akar kupertahankanagar tak kehilangan asal keberadaandi bumi terendah aku beradatapi zikirku menggemamenggetarkan jagat raya la ilaaha illallahmuhammadar rasulullah aku rumputankekasih tuhanseluruh gerakkuadalah sembahyang 1992 Demikian puisi Sembahyang Rumputan karya Ahmadun Yosi Herfanda.
puisi karya ahmadun yosi herfanda